Pondok Pesantren Hasan Jufri
Menatap Masa Depan Cerah
Ditulis Oleh : Dr. Syahrul Adam (Alumni PP. Hasan Jufri)
Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia. Konon konsep pesantren meniru Ashab al- Suffah yaitu para sahabat muhajirin yang tinggal di emperan masjid Nabawi sembari mengikuti pengajian Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Menatap Masa Depan Cerah
Ditulis Oleh : Dr. Syahrul Adam (Alumni PP. Hasan Jufri)
Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia. Konon konsep pesantren meniru Ashab al- Suffah yaitu para sahabat muhajirin yang tinggal di emperan masjid Nabawi sembari mengikuti pengajian Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kata “ santri” menurut John yang
dikutip oleh Zamakhsyari Dhofir (1984: 18) berasal dari bahasa Tamil
yang berarti guru mengaji. Sedangkan Berg dalam buku yang sama
berpendapat bahawa kata santri berasal dari kata Shastri dalam bahasa
India yang berarti orang yang tahu buku suci agama Hindu, atau sarjana
ahli kitab suci agama Hindu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata
santri diartikan orang yang mendalami agama islam. Sedangkan pesantren
merupakan kata jadian dari kata santri dengan awalan “pe” dan akhiran
“an” diartikan sebagai tempat untuk tinggal dan belajar santri. Dari
pengertian tersebut Zamakhsyari Dhofir menyebutkan ada lima unsur pokok
pesantren yaitu Kyai, santri, pondok, masjid/mushala dan kitab-kitab
klasik.
Pesantren tertua di Indonesia adalah
pesantren Tegalsari Ponorogo yang didirikan tahun 1742, tetapi survey
Belanda tahun 1819 mengesankan bahwa pesantren itu belum seperti
pesantren yang sebenarnya. Dilaporkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan
yang mirip pesantren sudah ada di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu,
Surabaya, Madiun dan Ponorogo. Menurut Nurcholis Madjid penjajahan yang
terjadi di Indonesia telah mengubah pertumbuhan sitem pendidikan di
Indonesia. Seandainya tidak ada penjajahan mungkin yang muncul bukanlah
UI, ITB, UGM atau yang lainnya tetapi namanya mungkin Universitas
Termas, Krapyak, Bangkalan, Tebuireng, Sidogiri, Lasem dan seterusnya.
Cikal bakal Pesantren Hasan Jufri
dimulai saat KH. Hasan Jufri pulang dari pesantren. Ia termasuk santri
kelana sebagaimana ulama-ulama yang lain. Mulanya ia nyantri di Termas
selama tiga tahun. Kemudian melanjutkan pengembaraanya di Tebuireng
dibawah asuhan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Tidak lama kemudian ia
pindah ke pesantren Panji Buduran dan mengakhirinya di pesantren
Sidogiri. Di Sidogiri Hasan Jufri belajar selama 17 tahun dan sangat
akrab dengan putra-putranya pengasuh seperti Kyai Abdul Jalil, Kyai
Khalil dan Kyai Abdul Adhim. Ia dijuluki macan dari Bawean karena
kecerdasan dan keberaniannya.
KH.Hasan
Jufri memulai pengajiannya di rumahnya, Lebak. Selanjutnya ia
memindahkan pengajiannya di Keboangung. Suaranya yang merdu menambah
animo masyarakat untuk mendengarkan petuah-petuahnya sehingga namanya
terkenal se Bawean dan santrinya berdatangan dari berbagai penjuru.
Saat itu belum ada nama pesantrennya sebab pengajiannya difokuskan di
mushala dan santrinya masih santri kalong yaitu santri pulang-pergi.
KH. Hasan Jufri meninggal tahun 1940-an dengan meninggalkan seorang
putra, Baharudin yang masih berusia 6 tahun. Pengajian dilanjutkan oleh
keponakannya yaitu KH. Yusuf Zuhri.
Pada era Kyai Yusuf Zuhri pengajian
lebih dominan al-Qur’an karena beliau adalah seorang Hafidz. Yusuf
adalah santri KH.Munawir Krapyak Yogyakarta. Selepas dari Krapyak ia
nyantri di Sidogiri selama 7 tahun. Kurang lebih 40 tahun Kyai Yusuf
Zuhri mengasuh pesantren sampai beliau berpulang tahun 1981. Beliau
meninggalkan 11 putra-putri dan salah seorang putranya yakni KH.Bajuri
Yusuf menggantikannya mengasuh pesantren hingga saat ini.
Pada periode ke tiga inilah pesantren
Hasan Jufri mengalami perkembangan yang signifikan. Jumlah santri terus
bertambah dan mulai dibuka sekolah formal. Awalnya adalah Madrasah
Tsanawiyah pada tahun 1983 dengan 86 murid. Kepercayaan masyarakat yang
tinggi menuntut untuk dibuka Madarasah Aliyah pada tahun 1986.
Muridnya adalah lulusan dari Madarasah Tsanawiyah Hasan Jufri. Saat ini
jumlah siswa MTs Hasan Jufri lebih dari 500 siswa dan membuka kelas
Internasional ( ICP). Sedangkan MA Hasan Jufri jumlah siswa lebih dari
300 siswa dengan 3 program yaitu IPS, IPA dan MAK. Kedepan direncanakan
untuk melengkapinya dengan program bahasa.
Pada tahun 2010 ini dibuka perguruan
Tinggi pertama di Bawean yang legal yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam
Hasan Jufri ( STAIHA) Bawean dengan SK dari Dirjend pendidikan Islam
Kementrian Agama RI nomor : Dj.I/347A/2010.
Sebagai penulis, Syahrul Adam memulai
tulisannya tentang pesantren secara umum dan hal yang terkait
dengannya. Selanjutnya ia memaparkan biografi singkat pendiri dan
penerus yakni KH. Hasan Jufri, KH.Yusuf
Zuhri dan KH.Bajuri Yusuf. Perkembangan Pesantren Hasan Jufri
dielaborasi cukup menarik dan akurat dengan data-data terbaru. Dan
Syahrul mengakhiri tulisannya dengan makna lambang pesantren Hasan
Jufri. Menariknya dalam buku ini juga dilampirkan Nadzam Tauhid
berbahasa Bawean karya KH.Hasan Jufri.
Sebagai alumni Syahrul Adam patut
diacungi jempol karena telah berikhtiar dengan menyumbangkan tenaga dan
pikirannya demi kebaikan almamater. Jazakumullah Ahsanal Jaza.


Posting Komentar